SMPN 1 Sugio Gelar Studi Budaya di Desa Pancasila: Menumbuhkan Semangat Toleransi dan Kebhinekaan
Sugio, 9 Juni 2026 – Sebanyak 200 peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Sugio mengikuti kegiatan Studi Budaya di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, pada Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini didampingi oleh 20 pembina yang terdiri atas Kepala Sekolah serta Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMP Negeri 1 Sugio.
Kegiatan Studi Budaya ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada peserta didik tentang nilai-nilai toleransi, kerukunan, dan keberagaman yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Desa Balun dipilih sebagai lokasi studi karena dikenal luas sebagai “Desa Pancasila”, sebuah desa yang menjadi simbol nyata harmonisasi kehidupan antarumat beragama.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa berkesempatan mengamati secara langsung kehidupan masyarakat Desa Balun yang terdiri atas pemeluk agama Islam, Kristen, dan Hindu yang hidup berdampingan secara damai. Salah satu keunikan desa ini adalah keberadaan sarana ibadah yang saling berdekatan, yaitu pura di sebelah kiri, masjid di tengah, dan gereja di seberang jalan sebelah kanan. Pemandangan tersebut menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan saling menghormati.
Kepala SMP Negeri 1 Sugio, Dr. Hj. Hibatun Wafiroh, S.Pd.Si., M.Pd., menyampaikan bahwa keragaman agama yang ada di Desa Balun merupakan fenomena sosial yang sangat menarik dan layak dijadikan sumber pembelajaran bagi generasi muda.
"Desa Balun memberikan pelajaran berharga kepada anak-anak tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman. Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta didik dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, khususnya sikap toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa sebutan “Desa Pancasila” melekat pada Desa Balun karena desa tersebut merepresentasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakatnya. Sebutan tersebut muncul dari berbagai penelitian mengenai keragaman masyarakat Desa Balun yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tampak antusias mengikuti pemaparan materi, melakukan observasi lapangan, serta berdialog dengan masyarakat setempat. Mereka memperoleh wawasan baru tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah perbedaan suku, budaya, dan agama.
Melalui kegiatan Studi Budaya ini, SMP Negeri 1 Sugio berharap dapat menanamkan karakter Profil Pelajar Pancasila kepada peserta didik, khususnya dalam aspek berkebinekaan global, gotong royong, dan berakhlak mulia. Pengalaman belajar di luar kelas ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi siswa untuk menjadi generasi yang toleran, menghargai perbedaan, dan mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.